Jumat, 16 Januari 2015

Pendidika Terhadap Penilaian Tentang Drama Sinetron



Penialain Menggunakan Drama Sinetron
Sinetron yang berada di televisi setiap hari kita kebanyakan tontontan yang tidak mendidik. Seluruhnya peragakan percintaan dan kekerasan menjadi primadona dalam Drama sinetron pertelevisian indonesia. tapi yang membuat hati para pemerhati remuk, kok bisa sinetron yang tidak mendidik malah menjadi tontonan FAVORIT.
Kebanyakan sinetron yang berisi adegan kurang seronok tersebut berlatar belakang sekolahan. Misal kadang sekolah dasar (SD) sudah mencari pacar, sedangakan Sekolah menengah pertama (SMP) sudah memulai boncengan dengan pacar, lalu ditingkat Sekolah menengah Atas (SMA) barulah melakukan seluruh amoral yang sejak dini ditanam. Oleh karena itu karena anak belum tahu hakikatnya, maka perilaku yang ada di televisi dijadikan contoh tauladan seperti contoh sang nabi. Mereka melakukan perbuatan itu seolah-olah perbautan tersebut mendapat pahala dari sang pencipta, dan patut dicontoh.
Hal inilah yang menjadikan kita takut akan perkembangan anak. Sehingga, sekolah menjadi benteng utama untuk mendidik anak mengerti artian sesungguhnya televisi bagi pembelajaran. Dan sinetron yang amoral tersebut dapat dijadikan inspirasi yaitu, dari segi keahlian dan penemuan inspirasi dalam pembuatan sinetron dalam penilaian akhir selama satu semester.
Peserta didik dalam pembelajaran menggunakan sistem sinetron ini sangat sulit diperagakan. Soalnya mengandung dua sisi campuran. Yaitu sisi keahlian dan kognisi. Dari keduanya akan dipadukan sehingga, dapat secara apik berkembang menjadi sinetron yang apik dan mendidik.
Meski pembelajaran sulit pada awalnya, namun ketika tahu setelah mendapat arahan dari pengajar akan terasa mudah dan dapat dipraktekan oleh peserta didik. Dengan fitrah yang telah dimiliki oleh tiap peserta didik, maka keniscayaan pembelajaran sinetron bisa berjalan asalkan ada kemauan bagi peserta didik dalam menuntut ilmu.
Sisi keahlian dapat dibagi kembali menjadi dua sektor. Pertama menulis naskah dalam alur cerita sinetron. Cerita ini dapat dibuat sesuai dengan minat peserta didik. Namun, apabila peserta didik tidak mampu menghasilkan ide sesuai hati nuraninya, guru dapat membantu peserta didik. Agar dapat terbantu. Tapi, bantuan dari guru hanya sebatas pengarahan atau petunjuk bukan secara langsung memberikan solusi dari permasalahan peserta didik. Sehingga, peserta didik mampu berpikir keras dan memunculkan ide brilian dalam memberikan alur cerita.
Kedua, bakat akting. Disini peserta didik akan dilatih oleh antar teman. Sehingga, ikatan emosional anatar teman dapat timbul. Ikatan yang sudah saling dekat akan menjadikannya nayaman. Seorang manusia apabila sudah mendapat kenyamanan ketika kerja sama akan enak. Beda ketika anatar satu sama lain ada ketidakakraban. Akn muncul ketidakakuran dalam satu kelas dan yang paling berbahaya adanya perbedaan “status” ataupun “agama” dalam komunitas. Tentu, hal inilah pembelajaran lewat sinetron dapat menghapuskan segala hal negatif tersebut.
Sisi keahlihan sudah dibahas diatas. Tinggal satu lagi sisi kognisi. Dalam sisi kognisi ini siswa dituntut mengetahui secara mendalam isi seluruh materi yang telah diajarkan selama satu semester. Karena bentuk sinetron yang dibuat akan berhubungan dengan isi materi yang telah diberikan satu semester. Ketika satu semester tidak mampu dihayati secara mendalam maka, akan terjadi kekacauan. Sehingga, sinetron meskipun sudah dibuat alur ceritanya sesuai dengan keahlihannya akan tampak kurang menghayati ketika ilmu yang selama satu semester masih abu-abu didapat.
Sebenarnya, pembuatan sinetron kali ini sebagai ujian akhir untuk melihat seberapa jauh siswa mendalami  materi yang didapat. Dengan prakter secara langsung melalui Drama sinetron akan kelihatan mana peserta didik yang sudah dapat lulus dan mana peserta didik yang masih perlu bimbingan guru.
Tidak hanya mengevaluasi saja, kegiatan Drama ini. ada lagi yang penting. Yaitu dapat menjadikan peserta didik lebih akrab dengan kegiatan secara riil yang ada didepan mata. Contoh ketika praktik pelajaran biologi. Maka drama sinetron harus berhungan dengan ilmu biologi. Praktek nyetik pohon, praktek mencegah penanggulangan nyamuk, ataupun praktek cara mengatasi penyakit punggung saat duduk.
Adapun pelajaran lainnya dapat serupa dilakukan. Sehingga, ilmu ataupun mental anak dapat direvolusi dengan gradual. Dengan sisitem berangsur-angsur dari tiap semester atau tiap sebulan sekali maka, secara pengalaman mereka akan terbiasa ketika mengahadapi semester berikutnya. Sehingga, rasa canggung akan hilang. Keberanian kepada peserta didik tampil di muka akan terbentuk.
Sistem pembelajaran sinetron ini dapat pula menjadi pengganti pendidikan kita yang ANTI-REALITAS. Melalui pendidikan ini siswa dapat sendirinya mempergakan ilmu yang secara mendalam diresapi di sekitar realitasnya. Sehingga, ilmunya dapat bermanfaat bagi dirinya dan masyarakt luas.
Anggapan bahwa ilmu yang didapat sekolah hanya dijadikan bank bagi otak kita dapat dimusnahkan dengan peragakaan drama sinetron tersebut. Dengan peragakan sistem tersebut semoga, dapat menjadikan anak didik mampu menyalurkan ilmunya ke masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar