Manfaat Menulis Pelajaran
Semakin bertambahnya umur kita akan semakin sering
lupa. Kelupaan kita sebagai siswa memberi dampak ketidak beruntungan. Sebab
pelajaran yang tidak kita tulis dengan sendirinya akan lenyap. Untuk itu menulis
terus-menerus menjadikan siswa semakin pintar dan pandai dalam dimensi waktu.
Sekolah menjadi
wahana pendidkan yang dapat memberikan pengetahuan agar manusia tahu apa yang
sebelumnya mereka tidak tahu. Sekolah yang mengajarkan banyak pelajaran tampak
kesulitan bila, tidak ditulis atau dicatat oleh siswa. Untuk itu perlu memegang
teguh kata Ali bin Abi Tholib bahwa ilmu bagaikan kuda liar yang tidak diikat
akan lepas. Artinya, bahwa ilmu itu harus ditulis kalau tidak akan hilang
dengan sendirinya.
Pelajaran yang
diajarkan oleh tiap-tiap tingkat pendidikan berbeda-beda. Tiap jenjang
pendidikan memiliki pelajaran yang semakin keatas akan bertambah banyak. Untuk
tingkatan dasar seperti SD maksimal pelajaran mencapai 7 mata pelajaran dalam
setahun. Itu belum SD yang berbasis
agama atau yang akrab disebut MI. Di MI sendiri memiliki mata pelajaran lebih
banyak dibanding dengan SD kira-kira sebanyak 7 mata pelajaran umum dan 5 khusus ( pelajaran
Agama) sehingga total mencapai 12 mata pelajaran.
Tingkat menengah
pertama yaitu SMP dan MTS ( sekolah menengah pertama berbasis Islam) juga memiliki variansi berbeda. SMP sendiri
memiliki jumlah mata pelajaran sebanyak 10 dalam setahun itupun setiap jenjang
kelas satu, dua dan tiga berbeda jumlahnya dalam kurun waktu setahun. MTS
sendiri dalam setahun biasanya memaparkan 15 mata pelajaran. MTS lebih banyak
dengan SMP dikarenakan adanya mata pelajaran tambahan berupa pelajaran yang
menyangkut Agama.
Jenjang SMA atau MA
juga memiliki perbedaan mencolok. Pelajaran tingkat SMA memiliki variansi
beragam lebih sedikit dibanding dengan MA. Bermacam-macam pelajaran yang
diajarkan oleh guru apabila tidak ditulis akan membuat ilmu yang didapat
disekolah akan lenyap seiring dengan
lulusnya siswa dalam suatu jenjang pendidikan. agar tetap berlanjut maka,
menulis setiap pelajaran membantu siswa merekap semua pelajaran yang pernah
diajarkan tingkatan masing-masing ( SD/MI, SMP/MTS dan SMA/MA).
Karena
dalam lokus sekolahan,Siswa berbeda-beda dalam potensi intelegensinya. Karena,
itu merekap semua pelajaran membantu siswa yang akan melanjutkan ke jenjang
lebih tinggi. Ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Thurstone
dalam Akhmad Sudrajat mengungkapkan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa
inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : a) kemampuan
berbahasa, b) kemampuan mengingat, c) kemampuan nalar atau berpikir, d)
kemampuan tilikan ruang, e) kemampuan bilangan, f) kemampuan menggunakan
kata-kata, g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat.
Sekolah sebagai
pengurus siswa memiliki kewenangan membuat setiap program yang bertujuan
pengembangan berbagai potensi untuk kemajuan peserta didik. Beberapa hal yang
perlu sekolah lakukan adalah menerapkan sekolah menulis atau mencatat
pelajaran. Hal ini dimaksudakan agar nantinya siswa tidak lupa yang diajarkan
pengajar. Dengan sistem menulis akan banyak siswa yang mencatat berbagai
pelajaran. Pelajaran-pelajaran yang banyak akan termuat dalam buku-buku tulis
sisiwa pada akhirnya akan mempermudah para siswa ketika lupa
pelajaran-pelajaran yang kemarin-kemarin.
setiap guru harus memeriksa semua catatan setiap
tulisan yang dimiliki siswa, ini bertujuan agar para siswa mampu memiliki tanggung
jawab sosial dengan lingkungannya. Siswa yang memliki tanggung jawab sosial dengan
siswa lain otomatis akan tergerak untuk mengikuti teman-temannya. Sisiwa akan
terpacu untuk memberikan tenaganya untuk menuju tahu dan mampu tergerak
mengimbangi kompetensi lainnya.
Menulis sangat
memberikan berbgai manfaat demi kemajuan siswa dibanding dengan siswa yang
tidak mau menulis. Diantara manfaat menulis yang akan didapat.
Pertama, lebih peka
dan ingat. Siswa yang rajin menulis akan memberikan kepekaan lebih dari pada
orang yang tidak menulis. Siswa yang menulis akan lebih memiliki kepekaan atau
respon cepat ketika seorang pengajar memberikan pelajaran kemarin. Dengan buku
yang sudah dicatat siswa akan segera membuka karena ingat pelajaran tersebut. Tentunya, siswa yang tidak menulis akan tidak
tahu apa-apa, kalaupun tahu mereka akan ragu mengucap karena tidak mempunyai
catatan yang menjadikan pegangan menjawab.
Kedua, membekas.
Membekas artinya bahwa semua pelajaran tidak akan pernah hilang selama buku
masih disimpan dengan baik. Buku yang sudah terisi pelajaran dapat kembali
dibuka meski sudah tidak dibutuhkan
ataupun kembali dibutuhkan. Berbanding terbalik dengan siswa yang emoh menulis.
Dia akan kebingungan ketika dibutuhkan pelajran-pelajaran yang kemarin-kemarin.
pada akhirnya, mau tidak mau dia mencari kembali teman-temannya yang menulis
pelajaran-pelajaran yang dibutuhkan.
Ketiga, mengumpulkan
materi. Siswa yang memiliki tulisan banyak dari SD sampai perguruan tinggi
misalnya. Akan menjadikan sebuah kumpulan materi yang dapat memberikan
keuntungan berlipat. Pelajran-pelajaran akan mudah dibukak kembali. Dan mungkin, semua materi yang pernah ditulis
dijadikan satu buku penuh hingga mampu dijadikan satu koleksi buku yang dapat
dijual dan menghasilkan uang.
Dengan kurikulum
2013 sebagai ketetapan baru dalam dunia pendidikan yang dimana seorang siswa dituntut
aktif kegiatan belajar mengajar (KMB). Siswa yang mampu menjadikan menulis
berbagai pelajaran yang pernah diikutinya akan kembali diingat dan mampu
kembali diulas lagi ketika pengajar memberikan kesempatan menjelaskan kembali
kepada para siswa lain.
Guru sebagai
pengajar haruslah komitmen dalam memantau siswa menulis. Dengan getolnya guru
meneruskan komitmennya semuanya akan menjadikan siswa akan terus-terusan tanpa
henti menulis.
Kegiatan yang
terus-menulis dikerjakan setiap hari akan menjadikan siswa akan terbiasa
menulis. Pada akhirnya siswa akan gemar mencatat meski tidak lagi disuruh.
Kesadaran siswa akan datang sendiri kalau menurut paulo freire “ kesadaran
kritis”.
Untuk itu, pengajar
haruslah mengubah mentalnya seperti yang diinginkan presiden jokowi, yaitu “reformasi
mental”. Butuh program-program memajukan demi menciptakan manusia-manusia
indonesia yang mampu berkualitas. Dan tak lupa menjadikan manusia indonesia
suka menulis.()
Siap menerima
kritikan lagi, agar tulisannya lebih bagus dan mampu menyebar ke publik.
Diharapkan
kritikannya berisi arahan. Juga pengarahan jangan asal dikasih “cat merah”.
Kalau hanya dikasih “cat Merah” penulis masih kebingungan. apa yang salah dalam
tulisan belum tahu. untuk itu Karena penulis lagi masa belajar makanya butuh
bimbingan sedetail-detailnya agar mahir menulis dengan benar. Sekian.
OLEH :
MUHAMMAD ABDUL MUISY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar