Kamis, 15 Januari 2015

Manfaat Menulis Pelajaran




Manfaat Menulis Pelajaran

Semakin bertambahnya umur kita akan semakin sering lupa. Kelupaan kita sebagai siswa memberi dampak ketidak beruntungan. Sebab pelajaran yang tidak kita tulis dengan sendirinya akan lenyap. Untuk itu menulis terus-menerus menjadikan siswa semakin pintar dan pandai dalam dimensi waktu.
Sekolah menjadi wahana pendidkan yang dapat memberikan pengetahuan agar manusia tahu apa yang sebelumnya mereka tidak tahu. Sekolah yang mengajarkan banyak pelajaran tampak kesulitan bila, tidak ditulis atau dicatat oleh siswa. Untuk itu perlu memegang teguh kata Ali bin Abi Tholib bahwa ilmu bagaikan kuda liar yang tidak diikat akan lepas. Artinya, bahwa ilmu itu harus ditulis kalau tidak akan hilang dengan sendirinya.
Pelajaran yang diajarkan oleh tiap-tiap tingkat pendidikan berbeda-beda. Tiap jenjang pendidikan memiliki pelajaran yang semakin keatas akan bertambah banyak. Untuk tingkatan dasar seperti SD maksimal pelajaran mencapai 7 mata pelajaran dalam setahun.  Itu belum SD yang berbasis agama atau yang akrab disebut MI. Di MI sendiri memiliki mata pelajaran lebih banyak dibanding dengan SD kira-kira sebanyak 7  mata pelajaran umum dan 5 khusus ( pelajaran Agama) sehingga total mencapai 12 mata pelajaran.
Tingkat menengah pertama yaitu SMP dan MTS ( sekolah menengah pertama berbasis Islam)  juga memiliki variansi berbeda. SMP sendiri memiliki jumlah mata pelajaran sebanyak 10 dalam setahun itupun setiap jenjang kelas satu, dua dan tiga berbeda jumlahnya dalam kurun waktu setahun. MTS sendiri dalam setahun biasanya memaparkan 15 mata pelajaran. MTS lebih banyak dengan SMP dikarenakan adanya mata pelajaran tambahan berupa pelajaran yang menyangkut Agama.
Jenjang SMA atau MA juga memiliki perbedaan mencolok. Pelajaran tingkat SMA memiliki variansi beragam lebih sedikit dibanding dengan MA. Bermacam-macam pelajaran yang diajarkan oleh guru apabila tidak ditulis akan membuat ilmu yang didapat disekolah akan  lenyap seiring dengan lulusnya siswa dalam suatu jenjang pendidikan. agar tetap berlanjut maka, menulis setiap pelajaran membantu siswa merekap semua pelajaran yang pernah diajarkan tingkatan masing-masing ( SD/MI, SMP/MTS dan SMA/MA).
Karena dalam lokus sekolahan,Siswa berbeda-beda dalam potensi intelegensinya. Karena, itu merekap semua pelajaran membantu siswa yang akan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Thurstone dalam Akhmad Sudrajat mengungkapkan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : a) kemampuan berbahasa, b) kemampuan mengingat, c) kemampuan nalar atau berpikir, d) kemampuan tilikan ruang, e) kemampuan bilangan, f) kemampuan menggunakan kata-kata, g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat.

Sekolah sebagai pengurus siswa memiliki kewenangan  membuat setiap program yang bertujuan pengembangan berbagai potensi untuk kemajuan peserta didik. Beberapa hal yang perlu sekolah lakukan adalah menerapkan sekolah menulis atau mencatat pelajaran. Hal ini dimaksudakan agar nantinya siswa tidak lupa yang diajarkan pengajar. Dengan sistem menulis akan banyak siswa yang mencatat berbagai pelajaran. Pelajaran-pelajaran yang banyak akan termuat dalam buku-buku tulis sisiwa pada akhirnya akan mempermudah para siswa ketika lupa pelajaran-pelajaran yang kemarin-kemarin.
 setiap guru harus memeriksa semua catatan setiap tulisan yang dimiliki siswa, ini bertujuan agar para siswa mampu memiliki tanggung jawab sosial dengan lingkungannya. Siswa yang memliki tanggung jawab sosial dengan siswa lain otomatis akan tergerak untuk mengikuti teman-temannya. Sisiwa akan terpacu untuk memberikan tenaganya untuk menuju tahu dan mampu tergerak mengimbangi kompetensi lainnya.
Menulis sangat memberikan berbgai manfaat demi kemajuan siswa dibanding dengan siswa yang tidak mau menulis. Diantara manfaat menulis yang akan didapat.
Pertama, lebih peka dan ingat. Siswa yang rajin menulis akan memberikan kepekaan lebih dari pada orang yang tidak menulis. Siswa yang menulis akan lebih memiliki kepekaan atau respon cepat ketika seorang pengajar memberikan pelajaran kemarin. Dengan buku yang sudah dicatat siswa akan segera membuka karena ingat  pelajaran tersebut.  Tentunya, siswa yang tidak menulis akan tidak tahu apa-apa, kalaupun tahu mereka akan ragu mengucap karena tidak mempunyai catatan yang menjadikan pegangan menjawab.
Kedua, membekas. Membekas artinya bahwa semua pelajaran tidak akan pernah hilang selama buku masih disimpan dengan baik. Buku yang sudah terisi pelajaran dapat kembali dibuka  meski sudah tidak dibutuhkan ataupun kembali dibutuhkan. Berbanding terbalik dengan siswa yang emoh menulis. Dia akan kebingungan ketika dibutuhkan pelajran-pelajaran yang kemarin-kemarin. pada akhirnya, mau tidak mau dia mencari kembali teman-temannya yang menulis pelajaran-pelajaran yang dibutuhkan.
Ketiga, mengumpulkan materi. Siswa yang memiliki tulisan banyak dari SD sampai perguruan tinggi misalnya. Akan menjadikan sebuah kumpulan materi yang dapat memberikan keuntungan berlipat. Pelajran-pelajaran akan mudah dibukak kembali.  Dan mungkin, semua materi yang pernah ditulis dijadikan satu buku penuh hingga mampu dijadikan satu koleksi buku yang dapat dijual dan menghasilkan uang.
Dengan kurikulum 2013 sebagai ketetapan baru dalam dunia pendidikan yang dimana seorang siswa dituntut aktif kegiatan belajar mengajar (KMB). Siswa yang mampu menjadikan menulis berbagai pelajaran yang pernah diikutinya akan kembali diingat dan mampu kembali diulas lagi ketika pengajar memberikan kesempatan menjelaskan kembali kepada para siswa lain.
Guru sebagai pengajar haruslah komitmen dalam memantau siswa menulis. Dengan getolnya guru meneruskan komitmennya semuanya akan menjadikan siswa akan terus-terusan tanpa henti menulis.
Kegiatan yang terus-menulis dikerjakan setiap hari akan menjadikan siswa akan terbiasa menulis. Pada akhirnya siswa akan gemar mencatat meski tidak lagi disuruh. Kesadaran siswa akan datang sendiri kalau menurut paulo freire “ kesadaran kritis”.
Untuk itu, pengajar haruslah mengubah mentalnya seperti yang diinginkan presiden jokowi, yaitu “reformasi mental”. Butuh program-program memajukan demi menciptakan manusia-manusia indonesia yang mampu berkualitas. Dan tak lupa menjadikan manusia indonesia suka menulis.()

Siap menerima kritikan lagi, agar tulisannya lebih bagus dan mampu menyebar ke publik.
Diharapkan kritikannya berisi arahan. Juga pengarahan jangan asal dikasih “cat merah”. Kalau hanya dikasih “cat Merah” penulis masih kebingungan. apa yang salah dalam tulisan belum tahu. untuk itu Karena penulis lagi masa belajar makanya butuh bimbingan sedetail-detailnya agar mahir menulis dengan benar. Sekian.

OLEH : MUHAMMAD ABDUL MUISY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar